Suara Akar Rumput………

8 Mei, 2008

Sore itu waktu antara setelah maghrib dan menjelang isya, dengan bersepeda lewatlah seorang tukang siomay didepan rumah. Kepingin juga ternyata, karena lama gak pernah makan siomay. Saya panggil bapak penjual siomay itu dan begitu dia turun dari sepeda, saya segera ke dapur untuk mengambil piring sendiri. Saya pikir, biar makannya lebih santai aja..

Si bapak ini segera membuka dandang wadah siomay dan mempersilakan saya untuk memilih sendiri. Saya pesan 8 gelintir siomay dan sayur kol 2 buah jadi semuanya 10. Dikali per buah harganya Rp.400 jadi total harganya Rp. 4000,..

Ada yang menarik dari peristiwa sore itu, yaitu pembincangan kami disela-sela si bapak penjual siomay sedang menyiapkan pesanan, sambil bekerja beliaupun bertanya. Kira-kira berikut cerita yang masih saya ingat :

Bapak : Masih kuliah mas?

Saya : Sudah selesai pak.

Bapak : Jadi sekarang lagi nyari kerja ya?

Saya : O.. saya sudah kerja pak, Lha Ini tempat kerja saya, kebetulan ini kantor walaupun bentuknya

lebih mirip rumah.

Bapak : Oooo..

suasana hening untuk beberapa saat, si Bapak sedang menuangkan sambal kacang keatas siomay yang telah di iris kecil-kecil.

Bapak : Kalau ini kantor berarti banyak kertas-kertas bekas ya mas?

Saya : Kalau kertas bekas kebetulan gak banyak. Soalnya kantor kami gak banyak

menggunakan kertas, pak.

Bapak : Kalau koran gimana mas?

Saya : Kalau koran sudah ada yang ngambil, temen saya sendiri.

Bapak : Oooo..

Saya : Bapak jualan koran bekas juga ya?

Bapak : Iya, mas. Kalau ngandelin jualan saja, sekarang ini nggak cukup mas. Tepung kanji aja sekarang dah naik jadi Rp. 5500 perkilo.

Pembicaraan terputus karena si bapak telah selesai dengan pekerjaaannya. dan menyerahkan sepiring siomay hangat kepada saya. Sambil menyerahkan uang, saya pikir bapak itupun akan segera berlalu. Tapi ternyata tidak, karena beliau melanjutkan lagi berbicara.

Bapak : Harga-harga kebutuhan sekarang dah pada naik mas, padahal bensin belum naik. Nggak tahu

bulan depan kalau jadi naik.

Saya : Iya ya pak. (saya juga bingung jawabnya, bukan apa-apa karena dampaknya kerasa juga

buat saya yang baru belajar wirausaha)

Bapak : Sepertinya presiden nya harus ganti ini mas!

Saya : lho lho lho..(dalam hati saya surprised juga).

sejenak saya berada dalam keterkejutan dan juga kebanggaan, bahwa ternyata era reformasi itu

tidak semuanya sia2, terbukti dgn apa yang saya hadapi sekarang ini. Seorang bapak penjual

siomay yang notabene mewakili arus bawah masyarakat, telah memiliki kesadaran politik yang

baik, terbukti dengan arah pembicaraannya yang cukup berbobot, setidak-tidaknya untuk rakyat biasa seperti saya.

Saya : gitu ya pak?

Bapak : Iya mas, presidennya harus ganti yang muda

Saya : Kenapa musti yang muda pak?

Bapak : Ya harus mas, karena yang tua-tua itu kan korupsi semua. Kalau nggak diganti yang muda, korupsi ya jalan terus, wong mereka semua terlibat.

Saya : Ooooo..(sayapun ber O panjang)

Bapak : Mbok mas nya ini nyalon jadi presiden..

Saya : Lho lho lho lho lho …kok saya (mata saya terbelalak, kaget beneran dengernya. Lha ini larah-larah-nya gimana, kok saya diminta nyalon jadi presiden)

Saya mencoba memahami logika berfikir si Bapak ini, ceritanya bagaimana kok si Bapak ini berfikir, saya yang jadi presiden. “Opo tumon“..horo toh (apa pantes). Apa si bapak punya ilmu laduni sehingga bisa melihat masa depan saya, atau mungkin melihat gaya berbicara saya yang lebih bagus dari pesiden sebenarnya sekalipun!… atau mungkin ada alasan lain (misalnya “mbombong “saya biar besok mau beli siomay lagi)hehehe

Tanpa menjawab pertanyaaan saya, si Bapak ini malah mennunjukkan caranya

Bapak : Masnya nyoba jadi calon anggota DPRD dulu, ikut partai politik. Nanti kan bisa dapet jalan menjadi presiden.

Wah si bapak ini hebat juga (batin saya). Gak peduli apa pekerjaannya( yang penting halal ya pak). Tapi kalau soal politik gak kalah sama anggota DPR yang asli.

tanpa pikir panjang sayapun mengiyakan permintaan si bapak, meskipun masih bingung juga sebenarnya.

Saya : Iya pak, doakan saja Saya bisa! Kalau cita-cita sih ada

Bapak : Wah bagus itu mas, saya ikut mendoakan

saya : !????

Bapak : Terima kasih mas, saya tak terusan saja

Saya : O..iya pak. Silakan pak

Bapak itupun berlalu dengan sepedanya.

Selanjutnya sayapun mulai berpikir sambil makan siomay yang barusan beli. Bener juga si Bapak, kenapa saya nggak bercita-cita yang besar sekalian saja ya.. Cita-cita Jadi presiden kan bolah-boleh saja toh. Perkara terwujud atau tidak itukan nomer delapan belas, yang penting bercita-cita dulu setinggi-tingginya.

Akhirnya sampailah saya pada kesimpulan,” Ooo.. ternyata memang siomay bapak tadi enaak tenann,…….!?

Entry Filed under: Pendidikan Nasional. Tag: , , , , .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Most Recent Posts