Modal Utama Enterpreneur (2)
27 Mei, 2008
Trust (tidak sama dengan believe) dan Skill
Modal kedua yang harus dimiliki seorang enterpreneur adalah Trust dan skill. Kita coba ulas tentang trust dan believe terlebih dahulu. Trust dan believe dalam terjemahan bebas berarti percaya. Terlihat sama meskipun sebenarnya tidak, kenapa demikian? Karena kalau keduanya sama kenapa susunan katanya mesti berbeda? Logis kan?
Serupa tapi tak sama mungkin lebih tepat untuk menggambarkan keduanya. Dimana trust mempunyai peranan lebih daripada believe. Sebuah contoh sederhana akan sedikit menyingkap perbedaan keduanya.
Terkisah ada seorang pemanah jitu yang sangat terkenal diseantero negeri. Hampir setiap lomba memanah yang diadakan dinegeri tersebut dapat dipastikan dia menjadi pemenang, sehingga dia cukup disegani oleh lawan-lawannya. Bahkan saking hebatnya dia mampu memanah dengan tepat sasaran sambil menunggang kuda yang berlari. Atraksi yang sering dilakukannya adalah memanah apel diatas kepala manusia. Itu telah dilakukannya lebih dari 100 X dan kesemuanya sukses, apel yang menjadi sasaran selalu tepat tertembus ditengahnya.
Namun untuk mencegah resiko kecelakaan yang fatal, setiap orang yang diletakkan apel diatas kepalanya harus menggunakan pakaian pengaman serta helm pelindung yang didesain tidak dapat ditembus oleh benda tajam seperti mata panah, bahkan tidak tembus peluru sekalipun. Kemampuannya yang sedemikian itu sudah sangat dikenal secara luas oleh masyarakat di negeri itu, dan setiap orang yang ditanya tentang pemanah jitu tersebut hampir pasti mereka mengenalnya.
Suatu hari sang pemanah akan mengumumkan pengunduran diri dari ajang perlombaan memanah dan atraksi-atraksi yang biasa dilakukannya. Dia ingin beristirahat agar bisa mengajari putranya menjadi pemanah hebat seperti sang ayah.
Dan untuk itu disiapkanlah sebuah atraksi yang sangat berbeda dari sebelumnya, yaitu dia ingin untuk terakhir kalinya melakukan atraksi memanah apel diatas kepala orang yang tidak memakai pelindung sama sekali. Tibalah hari itu, sang pemanah mengundang segenap warga negeri untuk menjadi saksi pengunduran dirinya sekaligus mengakhiri dengan atraksi yang sangat berbahaya karena jika meleset sedikit saja, niscaya nyawa manusia menjadi taruhannya. Segenap warga negeri hadir di sebuah tanah lapang yang sangat luas, ratusan ribu jumlahnya, untuk menyaksikan atraksi terakhir dari sang pemanah.
“Wahai saudaraku semuanya”, seru sang pemanah memulai atraksinya. “Terima kasih atas kehadiran anda, pada hari ini saya akan mengumumkan pengunduran diri saya sebagai pemanah profesional. Oleh karena itu saya akan melakukan atraksi memanah apel diatas kepala. Namun saya ingin melakukannya dengan cara yang sedikit berbeda dari biasanya. Saya ingin memanah apel diatas kepala orang yang tidak memakai pelindung apapun selain baju yang dipakainya.” Sontak hadirin ternganga, dan kemudian suasanapun menjadi riuh rendah. Yang hadir disibukkan dengan saling tanya diantara mereka.
“Untuk itu, saya meminta salah seorang dari hadirin yang ada disini untuk menjadi sukarelawan yang akan ditaruh apel diatas kepalanya.” Sontak suasana menjadi semakin gaduh berkepanjangan, dan sampai 30 menit kemudian tidak ada seorangpun yang maju untuk menjadi sukarelawan.
“Bagaimana? siapa yang mau menjadi sukarelawan, silakan maju kedepan!
Tidak ada tanggapan untuk beberapa saat, hingga akhirnya dari arah belakang muncullah seorang pemuda yang bersedia menjadi sukarelawan. “Saya siap”, sahutnya mantap. Bergegas sang pemuda inipun melangkah kedepan.
Dan atraksipun dimulai, sang pemuda meletakkan sendiri sebuah apel diatas kepalanya. Sang pemanahpun mengambil ancang-ancang dari jarak seperti biasaya dia memanah, kurang lebih 20 Meter. Para hadirin terlihat menahan nafas sambil berangsur-angsur mengambil jarak dari tempat atraksi, membayangkan apa yang terjadi jika bidikan panah itu meleset. Tentu akan sangat mengerikan.
Dalam beberapa detik panah direntangkan, mata sang pemanah melirik tajam dibalik busur panah dan “tap” mata panah meluncur deras dan menancap tepat di bagian tengah apel, dan pemuda itu sama sekali tidak terluka sedikitpun. Sontak tepuk tangan dan aplaus meriah dari para penonton membahana sampai beberapa saat. Dan atraksi itupun berlangsung dengan sukses.
“Wahai Saudaraku, kalian semua tahu bahwa aku adalah pemanah terbaik dinegeri ini. Dan kalian juga tahu, aku telah melakukan atraksi tadi lebih dari 100 x dan semuanya berhasil. Tapi ketika aku meminta kalian untuk menjadi sukarelawan, ternyata tidak ada seorangpun yang mau. Hanya seorang pemuda dan cukup satu orang saja untuk melakukannya, dan dia adalah “Anakku“.
Dari ilustrasi tadi dapat terlihat beda yang sangat jelas antara Trust dan believe, anda sudah tahu maksudnya?
Kalau belum, tunggu tulisan saya berikutnya di
Trust (tidak sama dengan believe) dan Skill (lanjutan)
Kalau sudah, tunggu ulasan tentang Skill
Entry Filed under: Inspirasi. Tag: believe, enterpreneur, modal, pengusaha, perbedaan, Trust, wirausaha.
2 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
latif | 4 Juni, 2008 at 10:13 am
artikelnya, lumayan menarik..terus menulis
2.
widya | 8 Oktober, 2008 at 10:13 am
setuju!!!modal yang dimiliki harus jelas. trust or believe. Kejelasan itu juga yang akan menjadikan seseorang sukses atau bahkan gagal. Kami tunggu tulisan berikutnya dengan cerita yang lebih menegangkan.